Sudah lewat satu bulan saya berada di Bandung. Entah mengapa hari kamis ini saya ingin jalan - jalan mengitari Cimahi dan Bandung.
Diawali dengan kota Cimahi, saya besar di kota yang baru berusia 9 tahun pada 2010 ini. Sejak ditetapkan sebagai kota otonom melalui Undang-undang (UU) No.9/2001 tentang Pembentukan Kota Cimahi kota ini berkembang cukup cepat sesuai dengan fungsinya.
Flash Back sejenak ke tahun 2006..
Pernah punya ide untuk memberikan hadiah ulang tahun ke-5 untuk kota ini, yaitu berupa buku atau foto - foto mengenai Cimahi. Awalnya saya semangat dan ambisius karena waktu itu masih kuliah dan sudah dapat melihat Cimahi sebagai "kota baru" yang memiliki infrastruktur cukup lengkap. Mulai dari rumah sakit, perguruan tinggi, pasar tradisional dan modern, stasion kerera api, tempat pendidikan militer, tempat wisata, kawasan industri, mall untuk belanja, stadion sepakbola bahkan hingga alun-alun dan masjid Agung, Cimahi memiliki itu semua. Saya ingin menyelesaikan itu semua sendiri, tapi akhirnya saya sadar saya butuh bantuan beberapa teman untuk menyelesaikan ini. Sayangnya tidak ada teman yang memiliki pemikiran yang sama ketika itu ditambah lagi dengan pemerintahan yang belum terbentuk secara tranparan dan solid seperti sekarang. Waktu itu saya bingung mengenai batasan kota ini, karena tempat tinggal saya berada diperbatasan antara Cimahi dan Kabupaten Bandung, Ketika saya kecil saya tinggal di Cimahi Tengah tapi sekarang sudah tidak dinamakan Cimahi Tengah lagi. Akhirnya saya mencari tahu perihal ini, tepatnya pada Badan Pertanahan Nasional, Kota Cimahi tentunya. Saya menemukan kantornya didekat stadion sepakbola, saya tanya ke mereka sangat disayangkan jawabannya. "Kami pun belum memiliki data yang akurat tapi dapat dikira-kira, yang ditanya perbatsan sebelah mana dek?". Wah udah mo 5 tahun masih seperti ini??
Dan kemarin saya melihat kantor Badan Pertanahan Nasional ini sudah ada "identitasnya" memiliki kantor yang bagus tepat didepannya Puskesmas Citeureup. Jika saya amati bangunan ini masih baru dan tipe bangunannya cukup mengikuti perkembangan jaman sekarang atau mungkin sudah dipaten untuk bangunan pemerintahan sekarang? yang pasti tidak kaku. Selidik punya selidik kantor ini baru diresmikan pada tahun 2010 kemarin. Kantornya masih di daerah "pasar atas" saya menyebutnya demikian karena dari kecil menyebut daerah ini seperti itu,sekarang mungkin sudah berubah seperti halnya Cimahi Tengah. Nanti jika ada kesempatan saya akan menanyakan mengenai perbatasan kota ini, mudah-mudahan jawabannya tidak mengecewakan.
Menyusuri jalan Citeurep saya jadi inget ketika SD dulu ada pelajaran olah raga dan renang di Pasar atas ini,di SGO atau Cempaka. Sepintas saya melihat jalan menuju ketempat kolam renang itu, tidak ada perubahan yang mendasar masih seperti itu saja yang cukup membedakan ialah rumah - rumah disekitar tempat itu. Banyak menjadi tempat usaha, dulu seinget saya hanya rumah biasa tapi sekarang sudah menjadi tempat usaha. Mulai dari warnet, tempat fitness, cuci kiloan hingga jual makanan khas cimahi. Dan yang seperti ini membangun kota ini dengan membayar pajak. *Iya klo taat pajak dan g ada yang seperti gayus di kota ini*
Selanjutnya saya ke Ciawatali menuju kantor pemerintahan kota. Memang 5 tahun yang lalu gedung ini masih belum "mantep" seperti sekarang. Disebelah gedung ini ada Cimahi Convention Center, kebetulan saya pernah masuk kedalam gedung tersebut. Arsitektur yang modern dan layak disebut Convention, tapi sepertinya belum teruji sebagai "tempat" Convention apa saya belum tau??
Diawali dengan kota Cimahi, saya besar di kota yang baru berusia 9 tahun pada 2010 ini. Sejak ditetapkan sebagai kota otonom melalui Undang-undang (UU) No.9/2001 tentang Pembentukan Kota Cimahi kota ini berkembang cukup cepat sesuai dengan fungsinya.
Flash Back sejenak ke tahun 2006..
Pernah punya ide untuk memberikan hadiah ulang tahun ke-5 untuk kota ini, yaitu berupa buku atau foto - foto mengenai Cimahi. Awalnya saya semangat dan ambisius karena waktu itu masih kuliah dan sudah dapat melihat Cimahi sebagai "kota baru" yang memiliki infrastruktur cukup lengkap. Mulai dari rumah sakit, perguruan tinggi, pasar tradisional dan modern, stasion kerera api, tempat pendidikan militer, tempat wisata, kawasan industri, mall untuk belanja, stadion sepakbola bahkan hingga alun-alun dan masjid Agung, Cimahi memiliki itu semua. Saya ingin menyelesaikan itu semua sendiri, tapi akhirnya saya sadar saya butuh bantuan beberapa teman untuk menyelesaikan ini. Sayangnya tidak ada teman yang memiliki pemikiran yang sama ketika itu ditambah lagi dengan pemerintahan yang belum terbentuk secara tranparan dan solid seperti sekarang. Waktu itu saya bingung mengenai batasan kota ini, karena tempat tinggal saya berada diperbatasan antara Cimahi dan Kabupaten Bandung, Ketika saya kecil saya tinggal di Cimahi Tengah tapi sekarang sudah tidak dinamakan Cimahi Tengah lagi. Akhirnya saya mencari tahu perihal ini, tepatnya pada Badan Pertanahan Nasional, Kota Cimahi tentunya. Saya menemukan kantornya didekat stadion sepakbola, saya tanya ke mereka sangat disayangkan jawabannya. "Kami pun belum memiliki data yang akurat tapi dapat dikira-kira, yang ditanya perbatsan sebelah mana dek?". Wah udah mo 5 tahun masih seperti ini??
Dan kemarin saya melihat kantor Badan Pertanahan Nasional ini sudah ada "identitasnya" memiliki kantor yang bagus tepat didepannya Puskesmas Citeureup. Jika saya amati bangunan ini masih baru dan tipe bangunannya cukup mengikuti perkembangan jaman sekarang atau mungkin sudah dipaten untuk bangunan pemerintahan sekarang? yang pasti tidak kaku. Selidik punya selidik kantor ini baru diresmikan pada tahun 2010 kemarin. Kantornya masih di daerah "pasar atas" saya menyebutnya demikian karena dari kecil menyebut daerah ini seperti itu,sekarang mungkin sudah berubah seperti halnya Cimahi Tengah. Nanti jika ada kesempatan saya akan menanyakan mengenai perbatasan kota ini, mudah-mudahan jawabannya tidak mengecewakan.
Menyusuri jalan Citeurep saya jadi inget ketika SD dulu ada pelajaran olah raga dan renang di Pasar atas ini,di SGO atau Cempaka. Sepintas saya melihat jalan menuju ketempat kolam renang itu, tidak ada perubahan yang mendasar masih seperti itu saja yang cukup membedakan ialah rumah - rumah disekitar tempat itu. Banyak menjadi tempat usaha, dulu seinget saya hanya rumah biasa tapi sekarang sudah menjadi tempat usaha. Mulai dari warnet, tempat fitness, cuci kiloan hingga jual makanan khas cimahi. Dan yang seperti ini membangun kota ini dengan membayar pajak. *Iya klo taat pajak dan g ada yang seperti gayus di kota ini*
Selanjutnya saya ke Ciawatali menuju kantor pemerintahan kota. Memang 5 tahun yang lalu gedung ini masih belum "mantep" seperti sekarang. Disebelah gedung ini ada Cimahi Convention Center, kebetulan saya pernah masuk kedalam gedung tersebut. Arsitektur yang modern dan layak disebut Convention, tapi sepertinya belum teruji sebagai "tempat" Convention apa saya belum tau??
Kantor Pemkot Cimahi
Perjalanan pun saya lanjutnkan, dengan menggunaka motor honda saya bisa leluasa berhenti untuk mengamati kondisi sekitar. Tujuan berikutnya Stasion Bandung.
Jalan yang saya ambil dari cihanjuang terus menuju jalan pesantren dan masuk komplek, sayangnya saya lupa namanya. Yang pasti komplek ini merupakan jalan alternatif jika jalan di jalur protokol macet. Saya diperkenalkan akan jalan ini oleh Ayah. Karena dulu kerja di IPTN atau sekarang disebut PT. DI jalan ini merupakan jalan alternatif yang paling ampuh. Kita bisa memilih jalan keluar, bisa di Sukajadi atau arah Gunung Batu. Sebenarnya penjagaan komplek ini sangat ketat, keluar masuk komplek pasti ada pos satpam dan ada tulisan "Bukan Jalan Umum". Ada yang selalu saya perhatikan dari satu rumah di komplek ini, yaitu rumah yang menjual sepatu. Saya diberitahu ayah klo m beli sepatu disni lebih murah daripada di toko, tapi hingga saat ini saya belum membukitkannya karena belum pernah mampir dan menanyakan harga sepatu disana. Tadi saya perhatikan rumah tersebut masih sama, menjual sepatu mungkin sedikit "nambah" dengan menjual boneka-boneka. Kemudian saya perhatikan pula komplek ini, rumah penduduknya banyak yang membuka usaha mulai dari warung kecil, masakan hingga kue dengan brand name sendiri, padahal komplek ini cukup terpencil. Keluar dari komplek ini ada masjid yang kecil dan didepannya ada penjual koran yang terbilang cukup lengkap, tapi saya pernah m beli koran BOLA ternyata penjualnya belum mendapatkan korannya. Waaah sungguh sayang koran BOLA tidak tersedia di komplek ini,hehe...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar